تفسير بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ
Al-'Allamah Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullaah menjelaskan:Huruf ب dalam {بِسْـمِ اللَّهِ : dengan nama Allah}, terkait dengan potongan kalimat tidak tertulis (tidak tampak).
Banyak ulama Muta`akhkhirin memilih bahwa potongan yang tidak tampak itu adalah fi`il (kata kerja) khusus yang posisinya dibelakang. [Fathul Majid, hlm.10. Darussalam]
Huruf ب dalam {بِسْـمِ اللَّهِ } mengandung makna mushahabah (menyertai) ada juga yang berkata untuk Isti`anah (meminta pertolongan)
Maka asumsinya adalah:
Dengan nama Allah aku menulis dalam keadaan memohon pertolongan dengan menyebut nama-Nya dan mengharapkan barokah dengannya.
Lafazh: الإسم (nama) diambil dari kata السُّموّ yang berarti 'Uluw (Ketinggian) ada juga yang berkata dari الوسم yang berarti tanda (Al-'Alaamatu) karena setiap apa yang diberi nama maka ia telah dikenal dan ditandai dengan namanya.
Lafazh: اللَّه
Al-Kisa`i dan al-Farra berkata:
Kata اللَّه (Allah) asalnya adalah الْإِ لَهُ mereka menghilangkan إ (hamzah) lalu meng-idgham-kan (menyambung) ل (lam) pada ل(lam) sehingga dua lam menjadi satu لَّ (Lam yang di-tasydiid) dan ditafkhim (dibaca tebal)
Abu Ja'far bin Jarir berkata: اللَّه (Allah) berasal dari (kata) الْإِ لَهُ hamzah yang merupakan huruf fa` kata digugurkan lalu “Lam” yang merupakan `ain kata dengan “Lam” tambahan yang disukun bertemu lalu salah satunya di-idghamkan kepada yang lain, maka kedua “Lam” ini bersatu dengan ditasydid dalam satu kata. [Fathul Majid, hlm.11. Darussalam]
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin berkata:
وهو الاسم الذي تتبعه جميع الأسماء حتى إنه في قوله تعالى: } )الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ * اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (إبراهيم:1-2)
لا نقول إن لفظ الجلالة "الله" صفة بل نقول هي عطف بيان لئلا يكون لفظ الجلالة تابعاً تبعية النعت للمنعوت.
Dia (Allah) adalah nama yang padanya semua nama-nama mengikuti (bersandar) sehingga dalam firman-Nya:
“(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.”(Ibrahim: 1-2)
Kita tidak mengatakan bahwa Lafazh Jalâlah “Allah” sebagai shifat tetapi kita katakan ia (Lafazh Jalâlah) merupakan “Athfu Bayan (kata penghubung)” agar Lafazh Jalâlah tidak menjadi taabi` (yang bersandar) -sebagaimana- bersandarnya na`t (sifat) kepada man`ut (yang disifati) [Syarhu Tsalatsatul Ushul hlm.17-18, Daar Ats-Tsurayya]
Para Ulama mengatakan bahwa telah diketahui lafazh-lafazh yang ma'rifat adalah Lafazh Allah, karena tidak ada lagi yang dimaksud melainkan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. [Syarhu Kasyfu Syubuhat hlm.18, Daar Ats-Tsurayya]
Adapun makna Lafazh Allah sebagaimana apa yang diriwayatkan kepada kita dari 'Abdullah bin 'Abbas, ia berkata:
هو الذي يألهه كل شيء و يعبده كل خلق
Dia adalah yang disembah oleh segala sesuatu dan yang diibadahi oleh seluruh makhluk.
Dan Ibnu Jarir menuturkan dengan sanadnya dari Adh-Dhahak dari Abdullah bin 'Abbas radhiyallaahu 'anhu, ia berkata:
اللَّه ذو الألو هية والعبو دية كل خلق
Allah adalah pemilik hak Uluhiyah dan Ubudiyah atas semua makhluk. [Fathul Majid, hlm.11, Darussalam]
Maraji`:
Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, Darussalam
Syarhu Tsalatsatul Ushul, Daar Ats-Tsurayya
Syarhu Kasyfu Syubuhat, Daar Ats-Tsurayya
Penulis: Yudha bin Abdul Ghani Utsman Bakhsan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar