3*باب إِثْمِ مَنْ كَذَبَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الشرح:
قوله: (باب إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم) يس في الأحاديث التي في الباب تصريح بالإثم، وإنما هو مستفاد من الوعيد بالنار على ذلك لأنه لازمه.
SYARAH HADITS
==============
oleh: al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah
Perkataan: [بَابُ إِثْمِ مَنْ كَذَبَ عَلَى النَّبِيِّ] “Bab: Dosa orang yang berdusta atas (nama) Nabi.” Tidak ada satu hadits pun yang mencantumkan kata dosa sebagaimana yang tercantum pada judul bab ini. Namun, konteks dosa tersebut dapat disimpulkan dari ancaman Neraka atas siapa saja yang melakukannya. Karena konsekuensi dari sebuah dosa adalah Neraka.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي مَنْصُورٌ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِيَّ بْنَ حِرَاشٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجْ النَّارَ
‘Ali bin al-Ja’d meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Syu’bah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Manshur mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Rib’i bin Hirasy berkata: Aku mendengar ‘Ali berkata: Nabi bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sungguh, orang yang berdusta atas namaku hendaklah ia masuk Neraka.” [HR. Bukhari no.106]
الشرح:
قوله: (منصور) هو ابن المعتمر الكوفي، وهو تابعين صغير، وربعي بكسر أوله وإسكان الموحدة، وأبوه حراش بكسر المهملة أوله وهو من كبار التابعين.
Perkataan: [مَنْصُوْرٌ] “Manshur.” Ia adalah Manshur bin Mu’tamir al-Kufi, seorang Tabi’in muda. Adapun رِبْعِيَّ dibaca dengan meng-kasrah-kan huruf ra dan men-sukun-kan huruf ba; ayahnya bernama Hirasy dan ia termasuk Tabi’in generasi awal.
قوله: (سمعت عليا) هو ابن أبي طالب رضي الله عنه.
Perkataan: [سَمِعْتُ عَلِيًّا] “Aku mendengar ‘Ali.” Yakni (‘Ali) bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu
قوله: (لا تكذبوا علي) و عام في كل كاذب، مطلق في كل نوع من الكذب، ومعناه لا تنسبوا الكذب إلي.
Perkataan: [لَا تَكْذِبُوْا عَلَيَّ] “Janganlah kalian berdusta atas namaku.” Larangan ini berlaku umum dan ditujukan kepada seluruh pendusta, serta berlaku mutlak untuk segala macam bentuk kebohongan. Artinya, janganlah memakai namaku untuk melakukan sebuah kedustaan.
ولا مفهوم لقوله: " علي " لأنه لا يتصور أن يكذب له لنهيه عن مطلق الكذب.
Dan tidak ada konteks mafhum pada lafazh عَلَيَّ (atas namaku) di hadits ini. Sebab, tidak mungkin rasanya seseorang diperbolehkan berdusta demi membela beliau, mengingat larangan berdusta atas nama beliau ini hukumnya mutlak untuk segala jenis kedustaan.
وقد اغتر قوم من الجهلة فوضعوا أحاديث في الترغيب والترهيب وقالوا:
نحن لم نكذب عليه بل فعلنا ذلك لتأييد شريعته، وما دروا أن تقويله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل يقتضي الكذب على الله تعالى، لأنه إثبات حكم من الأحكام الشرعية سواء كان في الإيجاب أو الندب، وكذا مقابلهما وهـو الحرام والمكروه.
Sebagian orang telah keliru akibat kejahilannya. Mereka membuat hadits-hadits palsu di dalam hal targhib (anjuran beramal) dan tarhib (peringatan untuk tidak melakukan pelanggaran) dan berdalil:
“Kami berdusta tidak untuk keburukan Rasulullah, tetapi itu kami lakukan untuk mendukung syari’at beliau!” Mereka tidak menyadari bahwa kedustaan mereka atas nama Rasulullah tersebut sama artinya dengan berdusta atas nama Allah. Sebab, perbuatan tersebut berarti menetapkan sebuah hukum baru di dalam syariat, baik hukumnya wajib atau mustahab; atau lawan dari kedua hukum tersebut, yakni haram dan makruh.
ولا يعتد بمن خالف ذلك من الكرامية حيث جوزوا وضع الكذب في الترغيب والترهيب في تثبيت ما ورد في القرآن والسنة واحتجوا بأنه كذب له لا عليه، وهو جهل باللغة العربية.
Jadi, alasan mereka yang menyelisihi hadits di atas tidak dapat diterima, seperti yang dilakukan oleh kelompok al-Karamiyyah yang membolehkan berbohong dalam perkara targhib dan tarhib untuk menguatkan apa yang sudah tercantum di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Mereka beralasan bahwa kedustaan tersebut adalah untuk membela Nabi, bukan untuk merusak citra beliau. Dan alasan seperti ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap bahasa Arab.
وتمسك بعضهم بما ورد في بعض طرق الحديث من زيادة لم تثبت وهي ما أخرجه البزار من حديث ابن مسعود بلفظ:
" من كذب علي ليضل به الناس " الحديث،
Selain alasan ini, ada pula yang berpegang dengan lafazh tambahan pada sebagian jalur riwayat hadits yang tidak shahih, yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dari hadits Ibnu Mas’ud, dengan lafazh:
(( مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ لِيُضِلَّ بِهِ النَّاسَ. ))
“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan tujuan untuk menyesatkan manusia.” (Al-Hadits)
وقد اختلف في وصله وإرساله، ورجح الدارقطني والحاكم إرساله، وأخرجه الدارمي من حديث يعلى بن مرة بسند ضعيف،
Hadits ini masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah sanadnya maushul (bersambung) atau mursal (terputus)? Ad-Daraquthni dan al-Hakim menguatkan bahwa sanad hadits ini mursal. Ad-Darimi meriwayatkan dari hadits Ya’la bin Murrah dengan sanad yang dha’if.
وعلى تقدير ثبوته فليست اللام فيه للعلة بل للصيرورة كما فسر قوله تعالى:
(فمن أظلم ممن افترى على الله كذبا ليضل الناس)
Kalaupun hadits tersebut shahih, makna lam (لِيُضِلَّ) di sini bukan sebagai ‘illat (alasan), tetapi bermakna shairurah (menjadikan). Sebagaimana di dalam firman Allah:
“… Maka, siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia .…” (QS. Al-An’aam: 144)
والمعنى أن مآل أمره إلى الإضلال، أو هو من تخصيص بعض أفراد العموم بالذكر فلا مفهوم له كقوله تعالى: (لا تأكلوا الربا أضعافا مضاعفة - ولا تقتلوا أولادكم من إملاق)
Makna ayat ini adalah bahwa tujuan kedustaan itu sendiri pada hakikatnya adalah untuk menyesatkan. Atau, ayat ini dapat dipahami sebagai pengkhusus bagi sebagian yang disebutkan secara umum sehingga tidak ada konteks mafhum-nya. Seperti pada firman Allah:
“… Janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda ….” (QS. Ali ‘Imran: 130)
-
“… Janganlah kalian membunuh anak kalian karena takut miskin ….” (QS. Al-An’aam: 151)
فإن قتل الأولاد ومضاعفة الربا والإضلال في هذه الآيات إنما هو لتأكيد الأمر فيها لا لاختصاص الحكم.
Kedua ayat di atas tidak berarti seseorang boleh membunuh anaknya jika tidak takut miskin, atau boleh makan riba jika tidak berlipat ganda. Ayat seperti ini berfungsi memberikan penegasan hukum, bukan pengkhususan hukum.
قوله: (فليلج النار) جعل الأمر بالولوج مسببا عن الكذب، لأن لازم الأمر الإلزام والإلزام بولوج النار سببه الكذب عليه أو هو بلفظ الأمر ومعناه الخبر، ويؤيده رواية مسلم من طريق غندر عن شعبة بلفظ " من يكذب علي يلج النار "
Perkataan: [فَلْيَلِجِ النَّارَ] “Hendaklah ia masuk Neraka.” Dusta dijadikan penyebab masuknya seseorang ke dalam Neraka. Sebab konsekuensi suatu perkara itu pasti terjadi, dan dalam hal ini kepastian seseorang akan masuk Neraka adalah disebabkan oleh kedustaan atas nama Nabi. Atau disimpulkan demikian jika dipahami bahwa kalimat tersebut berbentuk perintah namun bermakna berita. Hal ini didukung oleh riwayat Muslim dari jalur Ghundar, dari Syu’bah:
(( مَنْ يَكْذِبْ عَلَيَّ يَلِجِ النَّارَ. ))
“Barang siapa yang berdusta atas namaku, niscaya dia akan masuk Neraka.”
ولابن ماجه من طريق شريك عن منصور قال: " الكذب علي يولج - أي يدخل - النار".
Dan riwayat Ibnu Majah dari jalur Syarik, dari Manshur, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
(( اَلْكَذِبُ عَلَيَّ يُوْلِجُ –أَيْ يُدْخِلُ- النَّارَ. ))
“Berdusta atas namaku akan memasukkan seseorang ke dalam api Neraka.”
Sumber:
http://www.al-eman.com/الكتب/فتح%20الباري%20شرح%20صحيح%20البخاري%20**/باب%20إِثْمِ%20مَنْ%20كَذَبَ%20عَلَى%20النَّبِيِّ%20صَلَّى%20اللَّهُ%20عَلَيْهِ%20وَسَلَّمَ/i9&d17573&c&p1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar