Jumat, 31 Agustus 2012

LARANGAN BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM



3*باب إِثْمِ مَنْ كَذَبَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الشرح:
قوله: (باب إثم من كذب على النبي صلى الله عليه وسلم) يس في الأحاديث التي في الباب تصريح بالإثم، وإنما هو مستفاد من الوعيد بالنار على ذلك لأنه لازمه.

SYARAH HADITS
========
======
oleh: al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah
Perkataan: [بَابُ إِثْمِ مَنْ كَذَبَ عَلَى النَّبِيِّ] “Bab: Dosa orang yang berdusta atas (nama) Nabi.” Tidak ada satu hadits pun yang mencantumkan kata dosa sebagaimana yang tercantum pada judul bab ini. Namun, konteks dosa tersebut dapat disimpulkan dari ancaman Neraka atas siapa saja yang melakukannya. Karena konsekuensi dari sebuah dosa adalah Neraka.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي مَنْصُورٌ قَالَ سَمِعْتُ رِبْعِيَّ بْنَ حِرَاشٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَلِيًّا يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجْ النَّارَ

‘Ali bin al-Ja’d meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Syu’bah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Manshur mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Rib’i bin Hirasy berkata: Aku mendengar ‘Ali berkata: Nabi bersabda: “Janganlah kalian berdusta atas namaku. Sungguh, orang yang berdusta atas namaku hendaklah ia masuk Neraka.” [HR. Bukhari no.106]

الشرح:

قوله: (منصور) هو ابن المعتمر الكوفي، وهو تابعين صغير، وربعي بكسر أوله وإسكان الموحدة، وأبوه حراش بكسر المهملة أوله وهو من كبار التابعين.

Perkataan: [مَنْصُوْرٌ] “Manshur.” Ia adalah Manshur bin Mu’tamir al-Kufi, seorang Tabi’in muda. Adapun رِبْعِيَّ dibaca dengan meng-kasrah-kan huruf ra dan men-sukun-kan huruf ba; ayahnya bernama Hirasy dan ia termasuk Tabi’in generasi awal.


قوله: (سمعت عليا) هو ابن أبي طالب رضي الله عنه.

Perkataan: [سَمِعْتُ عَلِيًّا] “Aku mendengar ‘Ali.” Yakni (‘Ali) bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

قوله: (لا تكذبوا علي) و عام في كل كاذب، مطلق في كل نوع من الكذب، ومعناه لا تنسبوا الكذب إلي.

Perkataan: [لَا تَكْذِبُوْا عَلَيَّ] “Janganlah kalian berdusta atas namaku.” Larangan ini berlaku umum dan ditujukan kepada seluruh pendusta, serta berlaku mutlak untuk segala macam bentuk kebohongan. Artinya, janganlah memakai namaku untuk melakukan sebuah kedustaan.

ولا مفهوم لقوله: " علي " لأنه لا يتصور أن يكذب له لنهيه عن مطلق الكذب.

Dan tidak ada konteks mafhum pada lafazh عَلَيَّ (atas namaku) di hadits ini. Sebab, tidak mungkin rasanya seseorang diperbolehkan berdusta demi membela beliau, mengingat larangan berdusta atas nama beliau ini hukumnya mutlak untuk segala jenis kedustaan.

وقد اغتر قوم من الجهلة فوضعوا أحاديث في الترغيب والترهيب وقالوا:
نحن لم نكذب عليه بل فعلنا ذلك لتأييد شريعته، وما دروا أن تقويله صلى الله عليه وسلم ما لم يقل يقتضي الكذب على الله تعالى، لأنه إثبات حكم من الأحكام الشرعية سواء كان في الإيجاب أو الندب، وكذا مقابلهما وهـو الحرام والمكروه.

Sebagian orang telah keliru akibat kejahilannya. Mereka membuat hadits-hadits palsu di dalam hal targhib (anjuran beramal) dan tarhib (peringatan untuk tidak melakukan pelanggaran) dan berdalil:
“Kami berdusta tidak untuk keburukan Rasulullah, tetapi itu kami lakukan untuk mendukung syari’at beliau!” Mereka tidak menyadari bahwa kedustaan mereka atas nama Rasulullah tersebut sama artinya dengan berdusta atas nama Allah. Sebab, perbuatan tersebut berarti menetapkan sebuah hukum baru di dalam syariat, baik hukumnya wajib atau mustahab; atau lawan dari kedua hukum tersebut, yakni haram dan makruh.


ولا يعتد بمن خالف ذلك من الكرامية حيث جوزوا وضع الكذب في الترغيب والترهيب في تثبيت ما ورد في القرآن والسنة واحتجوا بأنه كذب له لا عليه، وهو جهل باللغة العربية.

Jadi, alasan mereka yang menyelisihi hadits di atas tidak dapat diterima, seperti yang dilakukan oleh kelompok al-Karamiyyah yang membolehkan berbohong dalam perkara targhib dan tarhib untuk menguatkan apa yang sudah tercantum di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah. Mereka beralasan bahwa kedustaan tersebut adalah untuk membela Nabi, bukan untuk merusak citra beliau. Dan alasan seperti ini menunjukkan kebodohan mereka terhadap bahasa Arab.

وتمسك بعضهم بما ورد في بعض طرق الحديث من زيادة لم تثبت وهي ما أخرجه البزار من حديث ابن مسعود بلفظ:
" من كذب علي ليضل به الناس " الحديث،

Selain alasan ini, ada pula yang berpegang dengan lafazh tambahan pada sebagian jalur riwayat hadits yang tidak shahih, yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dari hadits Ibnu Mas’ud, dengan lafazh:

(( مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ لِيُضِلَّ بِهِ النَّاسَ. ))

“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan tujuan untuk menyesatkan manusia.” (Al-Hadits)

وقد اختلف في وصله وإرساله، ورجح الدارقطني والحاكم إرساله، وأخرجه الدارمي من حديث يعلى بن مرة بسند ضعيف،

Hadits ini masih diperselisihkan oleh para ulama, apakah sanad­nya maushul (bersambung) atau mursal (terputus)? Ad-Daraquthni dan al-Hakim menguatkan bahwa sanad hadits ini mursal. Ad-Darimi meriwayatkan dari hadits Ya’la bin Murrah dengan sanad yang dha’if.


وعلى تقدير ثبوته فليست اللام فيه للعلة بل للصيرورة كما فسر قوله تعالى:
(فمن أظلم ممن افترى على الله كذبا ليضل الناس)

Kalaupun hadits tersebut shahih, makna lam (لِيُضِلَّ) di sini bukan sebagai ‘illat (alasan), tetapi bermakna shairurah (menjadikan). Sebagaimana di dalam firman Allah:
“… Maka, siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia .…” (QS. Al-An’aam: 144)

والمعنى أن مآل أمره إلى الإضلال، أو هو من تخصيص بعض أفراد العموم بالذكر فلا مفهوم له كقوله تعالى: (لا تأكلوا الربا أضعافا مضاعفة - ولا تقتلوا أولادكم من إملاق)

Makna ayat ini adalah bahwa tujuan kedustaan itu sendiri pada hakikatnya adalah untuk menyesatkan. Atau, ayat ini dapat dipahami sebagai pengkhusus bagi sebagian yang disebutkan secara umum sehingga tidak ada konteks mafhum-nya. Seperti pada firman Allah:

“… Janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda ….” (QS. Ali ‘Imran: 130)
-
“… Janganlah kalian membunuh anak kalian karena takut miskin ….” (QS. Al-An’aam: 151)

فإن قتل الأولاد ومضاعفة الربا والإضلال في هذه الآيات إنما هو لتأكيد الأمر فيها لا لاختصاص الحكم.

Kedua ayat di atas tidak berarti seseorang boleh membunuh anaknya jika tidak takut miskin, atau boleh makan riba jika tidak berlipat ganda. Ayat seperti ini berfungsi memberikan penegasan hukum, bukan pengkhususan hukum.


قوله: (فليلج النار) جعل الأمر بالولوج مسببا عن الكذب، لأن لازم الأمر الإلزام والإلزام بولوج النار سببه الكذب عليه أو هو بلفظ الأمر ومعناه الخبر، ويؤيده رواية مسلم من طريق غندر عن شعبة بلفظ " من يكذب علي يلج النار "

Perkataan: [فَلْيَلِجِ النَّارَ] “Hendaklah ia masuk Neraka.” Dusta dijadikan penyebab masuknya seseorang ke dalam Neraka. Sebab konsekuensi suatu perkara itu pasti terjadi, dan dalam hal ini kepastian seseorang akan masuk Neraka adalah disebabkan oleh kedustaan atas nama Nabi. Atau disimpulkan demikian jika dipahami bahwa kalimat tersebut berbentuk perintah namun bermakna berita. Hal ini didukung oleh riwayat Muslim dari jalur Ghundar, dari Syu’bah:
(( مَنْ يَكْذِبْ عَلَيَّ يَلِجِ النَّارَ. ))

“Barang siapa yang berdusta atas namaku, niscaya dia akan masuk Neraka.”

ولابن ماجه من طريق شريك عن منصور قال: " الكذب علي يولج - أي يدخل - النار".

Dan riwayat Ibnu Majah dari jalur Syarik, dari Manshur, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

(( اَلْكَذِبُ عَلَيَّ يُوْلِجُ –أَيْ يُدْخِلُ- النَّارَ. ))

“Berdusta atas namaku akan memasukkan seseorang ke dalam api Neraka.”

Sumber:
http://www.al-eman.com/الكتب/فتح%20الباري%20شرح%20صحيح%20البخاري%20**/باب%20إِثْمِ%20مَنْ%20كَذَبَ%20عَلَى%20النَّبِيِّ%20صَلَّى%20اللَّهُ%20عَلَيْهِ%20وَسَلَّمَ/i9&d17573&c&p1


Syarah Kitab Tauhid - Al-Imam Muhammad At-Tamimi Bag. 3

===========================
Ketiga: Tauhid Asma` dan Shifat [1]
=====================
======

هو إفراد اللَّه عز وجل بما له من الأ سماء والصفات , و هذا يتضمن سيئين:

Adalah Mengesakan Allah 'azza wa jalla dengan asma' dan shifat yang menjadi milik-Nya, hal ini mencakup dua hal:

الأول:
الإثبات, وذلك بأن نثبت للَّه عز وجل جميع أسمائه والصفاته

Pertama:
Penetapan bahwa kita menetapkan seluruh asma` dan shifat-Nya.


الثاني:
نفي المماثلة وذلك بأن لا نجعل للَّه مثيلًا في أسمائه والصفاته

Kedua:
Peniadaan permisalan bahwa kita tidak menjadikan sesuatu yang semisal (baca: serupa) dengan Allah dalam asma` dan shifat-Nya.


Sebagaimana firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11)

Fadilah ayat ini menunjukkan bahwa semua shifat-Nya tidak ada sesuatu pun makhluk yang menyerupai-Nya dalam shifat-Nya.
Meskipun ada persekutuan dalam dasar makna, tetapi berbeda dalam hakikat keadaanya.

Dan barangsiapa yang tidak menetapkan apa yang ditetapkan Allah bagi diri-Nya maka dia adalah orang yang menafikan, dan yang meniadakannya serupa dengan yang ditiadakan Fir'aun.

Dan barangsiapa yang menetapkannya disertai menyerupakan-Nya maka dia mirip dengan orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah disamping menyembah-Nya.

Dan barangsiapa yang menetapkannya tanpa penyerupaan berarti dia termasuk Muwahhidiin (orang-orang yang mentauhidkan, ed)

Dan dari Jenis Tauhid inilah ada sebagian Umat Islam yang tersesat hingga mereka terpecah menjadi beberapa golongan yang banyak, diantara mereka ada yang mengambil jalur peniadaan sehingga mereka meniadakan dan menafikan shifat-shifat Allah dan menyangka bahwa ia telah mensucikan Allah. Sungguh Mereka sesat
Karena hakikat mensucikan-Nya adalah menafikan shifat kekurangan dan 'aib dan mensucikan Perkataan-Nya bukan dengan (cara) penyamaran dan penyesatan.

Jika seseorang berkata:
Bahwasanya Allah tidak memiliki pendengaran, penglihatan, ilmu, dan kekuasaan, dia tidak mensucikan (shifat-shifat) Allah. Tetapi malah melemparkan 'aib yang paling tinggi kepada-Nya serta mensifati Perkataan-Nya dengan penyamaran dan penyesatan.
Karena Allah sering mengulang dan menetapkan dalam Firman-Nya:

{سميع - بصير Samii`un - Bashiirun}
{ عزيز - حكيم 'Aziizun - Hakiimun}
{غفور - رحيم Ghafuurun - Rahiimun}

Maka jika telah ditetapkan oleh-Nya dalam firman-Nya dan ditiadakan dari-Nya maka hal tersebut adalah penyamaran dan penyesatan, dan (termasuk) pencelaan dalam firman Allah 'azza wa jalla.

Dan diantara mereka ada yang mengambil jalur penyerupaan dengan anggapan bahwa itulah yang sebenarnya dalam pensifatan Allah terhadap diri-Nya. Sungguh (mereka itu) Sesat karena mereka tidak mensifati Allah yang sebenarnya dengan memberikan 'aib dan kekurangan (bagi-Nya) sebab mereka menjadikan Dzat yang sempurna dari segala sisi, sama dengan yang kurang dari segala sisi.

Dan jika pengutamaan yang sempurna atas yang kurang (hal tersebut) dapat menurunkan bobotnya, dan bagaimana bisa menyerupakan yang sempurna dengan yang kurang ??

Dan inilah kejahatan terbesar terhadap (hak) Allah 'azza wa jalla, meskipun orang-orang yang mentakwil (baca: meniadakan shifat-shifat-Nya) merupakan orang-orang yang kejahatannya paling besar namun masih (banyak) orang yang tidak menetapkan sifat Allah dengan semestinya terhadap-Nya.

+++++++++
Maka Wajiblah:
+++++++++
Kita mengimani sifat yang diberikan Allah bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya.
Dan seperti yang disampaikan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam TANPA ADA:

*Tahrif (تخريف ) :
menambah, mengurangi, atau merubah bentuk lafazh, atau mengalihkan makna

*Ta'thil (تعطيل ) :
meniadakan atau menolak

*Takyif (تكيف ) :
mempertanyakan bagaimana

*Tamtsil (تمثيل ) :
sama dengan Tasybih (Penyerupaan)

Inilah yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama lainnya dari golongan Ahlussunnah.

*Tahrif terjadi pada nash
*Ta'thil terjadi pada keyakinan
*Takyif terjadi dalam sifat
*Tamtsil terjadi dalam sifat, hanya saja penyerupaan ini lebih khusus daripada takyif

Maka wajiblah membebaskan akidah kita dari empat perkara ini.

Dan yang dimaksud Tahrif disini:
Ta'wil yang dilakukan para muharrif (orang yang mengubah) nash-nash shifat, karena mereka menamakan diri mereka ahli ta'wil, untuk melancarkan sebutan jalan yang mereka tempuh, karena jiwa (manusia) tidak menyukai istilah Tahrif (Pengubahan) hal ini merupakan pemilihan kata-kata yang menarik dan menjadikannya tampak indah dalam pandangan manusia sehingga mereka (baca: manusia) tidak mengelaknya.

Padahal Hakikat Ta'wil mereka:
Adalah pengubahan yaitu mengalihkan lafazh dari zhahirnya.

kami (syaikh Al-Utsaimin) katakan: (Jika) pengalihan ini memiliki dalil yang shahih maka hal itu berarti bukan ta'wil menurut makna yang kalian kehendaki, tapi hal itu (merupakan) Tafsir.

Tetapi jika tidak terdapat dalilnya maka hal demikianlah Tahrif (pengalihan makna sebenarnya, ed) dan mengubah kalimat dari tempatnya. Merekalah orang-orang yang sesat karena jalan ini. Pada akhirnya mereka menetapkan sifat-sifat tapi dengan mentahrif (baca: mengubah dan mengalihkan maknanya, ed) hingga merekapun sesat dan berlainan dengan jalan Ahlussunnah wal Jama'ah.

Atas dasar ini mereka tidak disifati (baca: diakui) sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah; karena tambahan sebutan mengharuskan adanya penisbatan.

Sebutan Ahlussunnah adalah bagi mereka yang menisbatkan diri kepada As-Sunnah, karena mereka berpegang (teguh) kepadanya. Sementara mereka (orang-orang yang sesat itu) tidak berpegang dengan As-Sunnah sebab pengubahan yang mereka lakukan.

Dan disamping itu kata: الجماعة (Al-Jama`ah) pada dasarnya adalah الجتماع (berhimpun atau berkumpul)

Sementara mereka (baca: para pentahrif) tidak menyatu dalam pendapat-pendapat mereka maka dalam kitab-kitab mereka terdapat campur tangan saling berlawanan dan membingungkan bahkan sebagian diantara mereka pun menyesatkan sebagian lainnya dan pendapatnya berlawanan dengan dirinya sendiri.

Pensyarah Kitab Ath-Thahawiyah (menukil) dari Al-Ghazali, (dia,ed) orang yang dianggap sudah mencapai tataran paling tinggi dalam ilmu kalam, teologi, jika seseorang telah membacanya tentu akan mendapatkan kesalahan yang jelas, kekeliruan dan tidak karuan dan sebenarnya mereka pun tidak mendapatkan kejelasan tentang urusan mereka. [2]

Ar-Raazî yang termasuk pemuka mereka berkata:

*نهايــة إقــدم العقــول عقــال
*و أكثــر سعي العــالمين ضلال
*و أرو حنا في و حشة جسو منا
*و غــايــة دنيــا نــا أذي ووبــال
*و لم نستفد من بحثنا طو ل عمرنا
*سوى أن جمعنــا فيه قيال وقالوا
*Kesudahan mendahulukan akal merupakan cermin kebodohan
*Dan kebanyakan usaha orang yang berilmu (tanpa petunjuk) adalah kesesatan
*Ruh kita berada dalam ketakutan terhadap badan kita
*Puncak keduniaan kita adalah bencana dan malapetaka
*Kita tak dapat mengambil manfaat dari pencarian sepanjang usia
*Perkumpulan kita di dalamnya hanyalah apa menurut katanya

Lalu ia (Ar-Raazi) berkata:
“Aku telah melalui jalan teologi (ilmu kalam) dan metode filsafat, aku melihatnya ilmu tersebut tak kuasa menyembuhkan orang sakit, tiada pula membasuh dahaga, aku pun mendapatkan jalan yang terdekat ialah jalan Al-Qur`an yang ku baca dalam ketetapan:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ ~ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Rabb Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ´Arsy. (QS. Thaha: 5) ~ Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik (QS. Fathir: 10)

Artinya aku menetapkan dan aku membaca penafian.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ~ وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”(QS. Asy-Syuraa: 11) ~ Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya (QS. Thaha: 110)

Artinya: aku menafikan cakupan ilmu mereka atas ilmu-Nya dan barangsiapa yang memiliki pengalaman seperti pengalamanku niscaya ia mengetahui apa yang ku ketahui. [3]

Engkau akan dapati mereka kebingungan dan rancu serta tidak yakin atas urusan mereka sendiri. Sementara engkau mendapatkan orang yang diberi hidayah jalan yang lurus oleh Allah, dalam keadaan tentram dan lapang dadanya dan tenang pikirannya, dia membaca dalam kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, ia pun menetapkan apa yang ditetapkan oleh Allah bagi-Nya dari asma` dan shifat-Nya.

Karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah selain dari-Nya, dan tidak ada kabar yang benar selain dari pengabaran-Nya, dan tidak ada penjelasan yang lebih gamblang selain dari penjelasan-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ ~ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ~ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

Allah hendak menerangkan (hukum syari´at-Nya) kepada kalian (An-Nisa`: 26) ~ Allah menerangkan (hukum ini) kepada kalian, supaya kalian tidak sesat.(An-Nisa: 176) ~ Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu. (An-Nahl: 89)

Ayat-ayat ini dan selainnya menunjukkan bahwa Allah menjelaskan kepada makhluluk dengan sejelas-jelasnya, jalan yang mengantarkan mereka kepada-Nya, sesuatu yang dibutuhkan makhluk ialah penjelasan sesuatu yang berkaitan dengan-Nya, dengan Asma` dan Shifat-Nya agar Allah diibadahi berdasarkan bashirah, karena Ibadah kepada yang tidak diketahui sifat-sifatnya atau bahkan yang tidak memiliki sifat maka ibadah tersebut sama sekali tidak benar, maka anda harus mengetahui sifat-sifat ma`buud (baca: yang disembah) yang membuatmu kembali pada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya.

Manusia tidak boleh melampaui batasannya hingga menetapkan bentuk (takyif); karena jika dia tidak bisa menggambarkan dirinya yang ada dihadapannya tentunya dia tak akan mampu menggambarkan hakikat pensifatan Allah terhadap diri-Nya. Maka dari itu wajib atas manusia mencegah dirinya dari pertanyaan (mengapa) dan (bagaimana) yang berkaitan dengan asma' Allah dan sifat-Nya. Dan juga mencegah dirinya dari memikirkan tentang kaifiyah (baca: perbuatan Allah)

Jika jalan ini (yaitu: tanpa ada tahrif, ta'thil, takyif, tamtsil, pen-) ditempuh manusia dia pasti lebih banyak merasakan ketenangan. Inilah keadaan orang-orang pendahulu (baca: Salaf) rahimahumullah.

و لهذا لما جاء إلى مالك بن أنس رحمه اللَّه قال:
يا أبا عبد اللَّه {الر حمن على العرش استوى} كيف استوى ? أطرق برأسه وقال:
الاستواء غير مجهول,
والكيف غير معقول,
والإ يمان به واجب,
والسؤال عنه بدعة, وما أراك مبتدعا

Ada seseorang mendatangi Imam Malik bin Anas rahimahullah seraya berkata:
Wahai Abu Abdillah {Rabb Yang Maha Pemurah, bersemayam diatas 'Arsy'}
Bagaimana Dia bersemayam? (Imam Malik pun) menundukan kepalanya lalu berkata:
Bersemayam-Nya (Istiwa) telah diketahui,
Bagaimana caranya tidak dapat difahami,
Mengimaninya Wajib,
Menanyakan tentang hal itu adalah Bid'ah, dan aku tidak melihatmu melainkan seorang ahli bid'ah.

Di zaman kita sekarang ini ada yang berkata:
“Allah turun ke langit dunia ketika sepertiga malam yang terakhir pada setiap malam, hal ini mengharuskan-Nya berada di langit dunia tiap malam, karena malam berlalu atas semua dunia, berarti pada sepertiga malam itu Allah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”


Perkataan semacam ini tidak pernah diucapkan oleh para shahabat ridhwaanullah 'alaihim, Seandainya pemikiran semacam ini terlintas dalam hati. orang beriman, sudah pasti Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskannya sejak semula atau hal itu melintas dalam benak seseorang yang akan menanyakannya maka pertanyaan ini dijawab sebagaimana para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang bertanya:

أين كان اللَّه قبل أن يخلق السموات والأرض فأجابهم

“Dimana Allah berada sebelum menciptakan langit dan bumi?” maka pertanyaan mereka pun dijawab oleh Beliau [4]

Pertanyaan yang besar ini menunjukkan bahwa setiap yang dibutuhkan manusia tentu Allah menjelaskannya.

Adapun untuk menjawab kerumitan dalam hadits turunya Allah [5]: dapat disampaikan sebagai berikut:
Selama sepertiga malam yang terakhir pada bagian bumi yang mengalaminya masih ada, maka Dia benar-benar turun di sana, sementara di bagian lain Dia tidak turun sebelum sepertiga malam yang terakhir.
Demi Allah 'azza wa jalla tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, Tetapi Zhahirnya hadits ini bahwa waktu turun berakhir dengan terbitnya fajar.

Dan semestinya bagi kita adalah kita berserah diri (tunduk), sambil berkata:
Sami'na wa Atha'na (kami mendengar dan kami taat) dan kami mengikuti serta mengimani maka inilah tugas kita.


[Alhamdulillah, Risalah bag. 3 ini telah selesai disusun oleh Tim Yudha bin Abdil Ghani Utsman Bakhsan pada hari Selasa, 10 Sya'ban 1433 H / 30 Juni 2012 (05:00 WIB), Tangerang]

______________________________
1. Disalin dari kitab Al-Qaulul Mufid 'Ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Juz I, hal. 12-17 Cet. Daar al-'Ashimah.

2. Syarh Ath-Thahawiyah 1/245 dan lihat juga: Dar-u Ta`aarudhil Aqli wan Naqli 1/162 dan Al-Ihyaa' 1/94-97.

3. Lihat: Dar-u Ta'aarudhil Aqli wan Naqli 1/159-160, Al-Fataawa 4/71, dan Syarhuth Thahawiyah 1/244, dan Thabaqaat Asy-Syaafi`iyah karya Qadhi Syuhbah 2/82.

4. Dari hadits Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhuma, yang didalamnya:

جئنا نسألك عن هذا الأمر قال:
كان اللَّه ولم يكن شىء غيـره, وكان عرشه على الماء

“Kami datang menanyakan perkara ini, beliau pun menjawab:
Allah ada dan tidak ada sesuatu selain-Nya yang ada, sedangkan 'Arsy-Nya di atas air.” diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Bad-ul Khalq / Bab Maa Jaa-a fii Qaulillahi Ta'ala: (و هو الذي يبدأ الخلق ) 1/418

Dan dari hadits Abi Ruzain, dia berkata:

يارسول اللَّه ! أين ربنا قبل أن يخلق خلقه ?
قال: كان عماء ما تحت هواء وما فوقه هواء, وخلق عرشه على الماء

Wahai Rasulullah dimana Rabb kita sebelum Dia menciptakan makhluknya?
Beliau menjawab: “Dia berada di ketinggian di atasnya dan di bawahnya tidak ada udara dan Dia menciptakan Arsy-Nya di atas air. (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Kitab Tafsir no. 3108 dan dia berkata: hadits ini hasan, dan Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah no. 13, dan Ahmad dalam Al-Musnad 4/11-12.

5. Dari hadits Abu Hurairah ditakhrij oleh Al-Bukhari, dalam Shahiih-nya, Kitab At-Tahajjud / Bab Ad-Du'a wash Shalaat Aakhir al-Lail no. 1145, 3621, 7494, Muslim Kitab Ash-Shalaatul Musaafiriin / Bab At-Targhib fi Ad-Du'a wa Adz-Dzikr Aakhir al-Lail 1/521.

Syarah Kitab Tauhid - Al-Imam Muhammad At-Tamimi Bag. 2

====================
Kedua: Tauhid Uluhiyah [1]
==============
======
Tauhid ini dikatakan pula Tauhid Ibadah dengan dua pertimbangan:

1. Pertama: karena penisbatannya kepada Allah yang dinamakan dengan Tauhid Uluhiyah (Mengesakan Ketuhanan)

2. Kedua: karena penisbatannya kepada makhluk yang dinamakan dengan Tauhid Ibadah (Mengesakan Peribadahan)

Yang mana maksudnya adalah mengesakan Allah dalam ibadah, maka yang berhak diibadahi hanya Allah (semata).

Firman-Nya:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Luqman: 30)

Istilah Ibadah dapat diperuntukan bagi dua hal:

الأول: التعبد فهي بمعنى التذ لل للَّه عز وجل بفعل أوامره واجتنبا نواهيه محبة وتعظيمًا

Pertama: At-Ta'abudu yang berarti ketundukan kepada Allah 'azza wa jalla dengan cara melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya karena rasa cinta dan pengagungan.

الثاني: المتعبد به فمعناها كما قال شيخ الْإسلام ابن تيمية رحمه اللَّه: اسم جامع لكل مايحبه اللَّه و يرضاه من الأقوال والأ عمال الظاهرة والبا طنة

Kedua: Al-Muta'abadu bihi artinya sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: “Nama yang mencakup apa pun yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan dan perkataan yang zahir maupun batin.”

Semisal:
Shalat, Pelaksanaannya adalah Ibadah dan juga ketundukan (التعبد )
Shalat itu sendiri merupakan ibadah dan juga (المتعبد به )

Pengesaan Allah dengan Tauhid ini:
Hendaklah engkau menjadi hamba bagi Allah saja, (yang) mengesakan-Nya dalam kecintaan dan pengagungan --[[ dan dalam ketundukan serta beribadah kepada-Nya dengan sesuatu yang disyariatkan-Nya]]--

Firman-Nya:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Al-Israa': 22)

Dan Firman-Nya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Al-Fatihah: 2)
Bahwa Dia (Allah) disifati sebagai Rabb semesta alam, seperti pemberian alasan tentang ketetapan Uluhiyah bagi-Nya, Dia-lah ilah (Tuhan) karena Dia Rabb semesta alam.

Dan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian.” (Al-Baqarah: 21)

Dengan demikian Yang diesakan dalam penciptaan adalah yang berhak diibadahi (disembah), karena suatu kebodohan jika engkau menjadikan makhluk (yang diciptakan) yang baru dan fana sebagai ilah (Tuhan) yang engkau sembah.

Pada hakikatnya ia (yang disembah selain Allah,-pen) tidak memberikan manfaat apapun untukmu, tidak pula mampu mengadakan, tidak pula menyiapkan dan tidak pula mampu mengulurkan.


Maka diantara kebodohan pula jikalau engkau menghampiri kuburan manusia yang sisa tulang-belulang, lalu engkau berdoa dan menyembahnya. Padahal dia (si mayit) mengharapkan doa anda, dan engkau bukannya meminta doa darinya, sebab dia (si mayit) tidak berkuasa atas dirinya sendiri untuk memberikan manfaat dan tidak bisa menghilangkan mudharat, maka bagaimana mungkin dia berkuasa melakukannya untuk orang lain ?!!

Dan seandainya ada manusia yang paling mulia disisi Allah maka dia adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

Firman-Nya:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.”(Al-Baqarah: 130)

Dan banyak yang kufur dalam jenis tauhid ini serta pada umumnya makhluk mengingkarinya dengan keras oleh karenanya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab (kepada mereka).

Firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Al-Anbiya: 25)

Meskipun demikian orang-orang yang mengikuti para Rasul ini hanya sedikit, sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

فَرَ أَيْتَ النَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيَّ وَ مَعَهُ الرَّجُلُ وَ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Maka kulihat seorang nabi beserta segolongan orang, ada nabi beserta satu atau dua orang dan ada nabi yang tak seorang pun besertanya.” [2]

PERINGATAN:
Yang mengherankan bahwa kebanyakan penulis dalam ilmu Tauhid dari kalangan Muta`akhirin hanya memfokuskan pada Tauhid Rububiyah, seakan-akan mereka sedang berbicara dengan kaum yang mengingkari wujud Rabb - meskipun memang ada yang mengingkari-Nya - Tetapi betapa banyak orang-orang muslim pada yang terjerumus di dalam syirik Ibadah.

Oleh karena itu harus ada perhatian yang lebih fokus kepada jenis Tauhid (uluhiyah) ini, sehingga kita dapat mengeluarkan orang-orang muslimin yang berkata:
“Bahwasanya mereka orang-orang Muslim, padahal mereka itu musyrik, dan mereka tidak mengetahuinya.


[Alhamdulillah, Risalah bag.2 ini telah selesai disusun oleh Tim Yudha bin Abdil Ghani Utsman Bakhsan pada hari Selasa, 6 Sya'ban 1433 H / 26 Juni 2012 (07:55 WIB), Tangerang]

______________________________
1. Disalin dari kitab Al-Qaulul Mufid 'Ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Juz I, hal. 9-11 Cet. Daar al-'Ashimah

2. Dari hadits Ibnu 'Abbas, ditakhrij oleh Al-Bukhari - kitab Ath-Thibb / Bab Man Iktawa Au Kawa Ghairahu 10/155, dan Muslim kitab Al-Imaan / Bab Ad-Dalil 'ala Dukhul Thawaif minal Muslimin Al-Jannah bighairihi Hisab walaa 'adzab 1/199

Syarah Kitab Tauhid - Al-Imam Muhammad At-Tamimi Bag. 1

--------oOo--------
1. MUQADDIMAH
--------oOo--------

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menye-satkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-bena r takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan dari-pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan menga-wasimu.” (QS. An-Nisaa’: 1)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang agung.”(QS. Al-Ahzaab: 70-71)

Amma ba’du:

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap
bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.

Kitab Tauhid [1] yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab [2] semoga Allah melimpahkan pahala yang agung kepadanya, mengampuninya dan orang-orang yang menanggapi dengan baik terhadap dakwahnya sampai hari kiamat, (kitab ini,-pent) muncul dengan muatan makna yang sangat bagus, yang menjelaskan tauhid dengan disertai dalil-dalil yang jelas, yang mengumpulkan rangkuman dalil-dalilnya untuk menjelaskan dan memaparkannya, sehingga Kitab Tauhid ini menjadi panji bagi Muwahhid (Ahli Tauhid) dan hujjah untuk para Mulhid (Anti Tauhid), disamping merupakan sumber manfaat bagi kaum muslimin dalam jumlah yang sangat besar.

Allah telah melapangkang dada Imam ini rahimahullah diawal pertumbuhannya kepada kebenaran yang jelas. Yang dengannya Dia mengutus para Rasul: (untuk) mengikhlaskan ibadah dengan segala bentuknya kepada Allah Rabb semesta alam, dan mengingkari syirik orang-orang musyrik yang dipegang oleh banyak kalangan, maka Allah meninggikan cita-citanya dan menguatkan tekadnya. Maka beliau pun mengajak penduduk Nejd kepada Tahid - yang merupakan Asas (Pondasi) Islam dan Iman -
Melarang mereka menyembah pohon, batu, kubur dan thaghut serta berhala, melarang mereka mempercayai tukang sihir, ahli nujum (rasi bintang) dan para dukun. Maka dengan dakwahnya Allah membatalkan semua bid'ah dan kesesatan yang mana setiap syaithan mengajak kepadanya. Dan dengannya Allah menegakkan jihad dan dengannya pula meluluhlantahkan syubhat-syubhat orang yang menyimpang dari kalangan ahli syirik dan kalangan para penentang.


------------oOo------------
2. PENJELASAN TAUHID
------------oOo------------

=========
Definisi Tauhid [3]
=========
Tauhid menurut bahasa adalah bentuk mashdar dari (وَحَّدَ- يُوَحِّدُ- تَوْحِيْدًا)
Yakni: جعل الشيء واحدا (menjadikan sesuatu itu satu)

Tauhid menurut Syar'i adalah:
إفراد اللَّه سبحانه بما يختص به من
الربو بية ولأالو هية ولأ سماء والصفات

Mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, berupa Rububiyah, Uluhiyah, Nama-nama dan Shifat.

==============
Macam-macam Tauhid
==============

Tauhid terbagi menjadi Tiga Macam
1. Tauhid Rububiyah
2. Tauhid Uluhiyah
3. Tauhid Asma dan Shifat

=================
Pertama: Tauhid Rububiyah
=================

هو إفراد اللَّه عز وجل باخالق , والملك والتدبير

Adalah mengesakan Allah 'azza wa jalla dalam hal Penciptaan, Kepemilikan, dan Pengurusan.

------------------------------------------------
1. Pengesaan Allah dalam Penciptaan:
------------------------------------------------

أن يعتقد الإنسان أنه لاخالق إلا اللَّه

Adalah keyakinan manusia bahwa tidak ada pencipta selain Allah (semata),
Firman Allah Ta'ala:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah adalah hak Allah.” (Al-A’raaf:54)

kalimat ini mengharuskan pembatasan karena khabar-nya didahulukan. Sebab mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan berarti mengharuskan pembatasan, firman Allah Ta’ala:

هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi” (Fathir: 3)

Ayat ini berfaidah sebagai pengkhususan penciptaan makhluk bagi Allah, adapun tentang disebutkannya penetapan pencipta selain Allah, sebagaimana firman-Nya,

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“maka Mahasuci Allah yang paling baik diantara para pencipta,” (Al-Mu’minuun:14)

begitu pula sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang membuat gambar bernyawa, lalu dikatakan kepada mereka:
أحيوا ما خلقتم

“Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan“[4]

maka hal ini bukanlah penciptaan yang hakiki, dan bukan mengadakan setelah tidak ada, tetapi itu berarti mengubah dar satu keadaan ke keadaan lain (inovasi) dan itu pun tidak menyeluruh, tapi terbatas menurut kemampuan manusia, terbatas pada lingkup yang sempit dan tidak menafikan perkataan kami: Pengesaan Allah dalam mencipta.

---------------------------------------------------
2. Pengesaan Allah dalam Kepemilikan:
---------------------------------------------------

فأن نعتقد لا يملك الخلق إلا خالقهم

adalah kita meyakini bahwa tidak ada yang memiliki makhluk (ciptaan) kecuali yang menciptakan mereka, sebagaimana firman-Nya:

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit & bumi (Ali Imran: 189) katakanlah, 'Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu (Al-Mu'minun: 88)

Dan Tentang disebutkan penetapan kepemilikan bagi selain Allah, seperti firman-Nya:

“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal itu tiada tercela.” (Al-Mu'minun: 6)

Dan firman-Nya:

“Atau rumah yang kalian miliki kuncinya.” (An-Nur: 61)

Maka hal tersebut adalah kepemilikan yang mahdud (terbatas) tidak mencakup kecuali satu dua hal yang kecil dari makhluk-makhluk ini. Maka manusia hanya bisa memiliki apa yang ada di bawah tangannya, dan dia tidak memiliki apa yang ada ditangan orang lain. Itupun merupakan kepemilikan terbatas ditinjau dari sifatnya. Dan manusia pun tidak bisa memiliki atas apa yang dimilikinya dengan kepemilikan sempurna (baca: seutuhnya). Maka dari itu dia tidak boleh menggunakannya kecuali menurut cara yang diperbolehkan untuknya yang sesuai menurut syariat.

Contohnya:
Bila seseorang hendak membakar hartanya, atau menyiksa hewan (peliharaan)-nya.

Kami katakan: “(perbuatan itu, pen-) Tidak Boleh”

Sedangkan Allah memiliki segalanya dengan kepemilikan yang sempurna dan seluruhnya.


---------------------------------------------------
3. Pengesaan Allah dalam Pengurusan:
---------------------------------------------------

أن يعتقد الإنسان أنه لامدبر إلا اللَّه وحده

Adalah keyakinan manusia bahwa tidak ada yang mampu mengurusi kecuali Allah semata.

Adapun pengurusan manusia terbatas pada apa yang dibawah kemampuannya dan terbatas pada apa yang diizinkan baginya menurut syariat.

Dan jenis Tauhid ini tidak ditentang orang-orang musyrik yang kepada merekalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus bahkan mereka mengakui (tauhid jenis ini).

Firman-Nya:

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka akan menjawab 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (Az-Zukhruf: 9)

Mereka mengakui bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusan dan di tangan-Nyalah kerajaan langit & bumi.

Dan tidak seorang pun dari keturunan Adam yang mengingkari hal ini. Tak seorang pun diantara diantara makhluk yang berkata: “Alam ini mempunyai dua pencipta yang sama”

Tak seorang pun mengingkari tauhid rububiyah, tidak dengan cara peniadaan dan tidak pula dengan cara penyekutuan, kecuali orang semacam fir'aun yang ia mengingkarinya (yakni: tauhid rububiyah) dengan cara peniadaan dan kesombongan, dia (fir'aun) meniadakan rububiyah Allah dan bahkan mengingkari wujud-Nya,
Firman-Nya:

“Dia (fir'aun) berkata, akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An-Nazi'at: 24)

“Aku tidak mengetahui tuhan bagi kalian kecuali aku.” (Al-Qashash: 38)

Inilah kesombongan dari Fir'aun, karena dia mengetahui bahwa tuhan adalah selainnya sebagaimana firman-Nya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka).” (An-Naml: 14)

Allah berfirman tentang Musa, ketika ia berdialog dengan fir'aun:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi.” (Al-Isra: 102) tapi jauh di dalam hatinya, fir'aun mengakui bahwa Rabb adalah Allah 'azza wa jalla.

Dan yang mengingkari tauhid rububiyah dengan cara penyekutuan adalah orang-orang majusi, mereka berkata:

إن للعالم خالقين هما الظلمة و النور

“Alam ini punya dua pencipta: cahaya dan gelap.”

walaupun demikian mereka tidak menganggap dua pencipta ini sama.

Mereka (majusi) berkata: “Sesungguhnya cahaya lebih baik daripada gelap, karena ia menciptakan kebaikan, sedang kegelapan menciptakan keburukan. Yang menciptakan kebaikan lebih baik daripada yang menciptakan keburukan.”

Dan juga mengatakan: bahwa kegelapan merupakan ketiadaan yang tidak bisa menyinari, sedangkan cahaya merupakan wujud yang dapat menyinari, yang dzatnya lebih sempurna.

Mereka juga mengatakan jenis ketiga:
“Apakah cahaya lebih dahulu, menurut istilah para filosofis? Mereka saling berbeda pendapat tentang kegelapan, apakah ia sesuatu yang lama atau baru?

Ada dua pendapat tentang hal ini,

Dalil Aqli yang menyatakan bahwa pencipta itu hanya satu:
Firman Allah Ta'ala:

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.” (Al-Mu'minun: 91)

Sebab jikalau kita menetapkan bahwa alam ini dua pencipta, tentunya setiap pencipta berambisi untuk menyendiri dengan apa-apa yang diciptakannya dan dia ingin berdiri sendiri seperti kebiasaan para penguasa (baca: raja). Tentunya dia pun tidak ridha kalau ada (tuhan) yang lain yang bersekutu dengannya.

Jika ia berdiri sendiri:
maka sesungguhnya ia pun menginginkan perkara lain, dan ia menginginkan kekuasaan untuknya yang tidak disertai seorang pun didalamnya.

Dalam kondisi seperti ini, jika masing-masing tuhan menginginkan kekuasaan, maka boleh jadi dia tidak mampu mengalahkan tuhan lain, atau boleh jadi dia mampu mengalahkannya. Jika satu tuhan dapat mengalahkan tuhan yang lain maka barulah ada pengakuan rububiyah baginya. Jika masing-masing tidak mampu mengalahkan yang lain maka rububiyah tidak layak diberikan kepada masing-masing (tuhan) karena siapa yang lemah tidak pantas dikatakan sebagai Rabb.





__________________

1. Diringkas dari muqaddimah Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid oleh Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, hal. 7, cet. Darussalam Riyadh, th. 1421 H

2. Beliau lahir di 'Uyainah th. 1115 H dan wafat di Dir'iyah th. 1206 H, semoga Allah melimpahkan rahmat atasnya.

3. Lihat Al-Qaulul Mufid 'Ala Kitabit Tauhid oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Juz I, hal. 5-9 Cet. Daar al-'Ashimah

4. Dari hadits Ibnu Umar, ditakhrij oleh Imam Bukhari dalam shahih-nya, Kitab al-Libas / Bab Adzab Al-Mushawwirin Yaumal Qiyamah (10/283), Muslim di dalamshahih-nya Kitab Al-Libas waz Zinah, Bab Tahrim Thaswir Shurah Al-Hayawan (3/1670)

[Alhamdulillah, Risalah bag.1 ini telah selesai disusun oleh Yudha bin Abdil Ghani Utsman Bakhsan pada hari Jum'at, 2 Sya'ban 1433 H / 22 Juni 2012 (09:00 WIB)]


Tafsir بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ

 تفسير بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللَّهِ

Al-'Allamah Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullaah menjelaskan:

Huruf ب dalam {بِسْـمِ اللَّهِ : dengan nama Allah}, terkait dengan potongan kalimat tidak tertulis (tidak tampak).
Banyak ulama Muta`akhkhirin memilih bahwa potongan yang tidak tampak itu adalah fi`il (kata kerja) khusus yang posisinya dibelakang. [Fathul Majid, hlm.10. Darussalam]

Huruf ب dalam {بِسْـمِ اللَّهِ } mengandung makna mushahabah (menyertai) ada juga yang berkata untuk Isti`anah (meminta pertolongan)

Maka asumsinya adalah:
Dengan nama Allah aku menulis dalam keadaan memohon pertolongan dengan menyebut nama-Nya dan mengharapkan barokah dengannya.

Lafazh: الإسم (nama) diambil dari kata السُّموّ yang berarti 'Uluw (Ketinggian) ada juga yang berkata dari الوسم yang berarti tanda (Al-'Alaamatu) karena setiap apa yang diberi nama maka ia telah dikenal dan ditandai dengan namanya.

Lafazh: اللَّه
Al-Kisa`i dan al-Farra berkata:
Kata اللَّه (Allah) asalnya adalah الْإِ لَهُ mereka menghilangkan إ (hamzah) lalu meng-idgham-kan (menyambung) ل (lam) pada ل(lam) sehingga dua lam menjadi satu لَّ (Lam yang di-tasydiid) dan ditafkhim (dibaca tebal)

Abu Ja'far bin Jarir berkata: اللَّه (Allah) berasal dari (kata) الْإِ لَهُ hamzah yang merupakan huruf fa` kata digugurkan lalu “Lam” yang merupakan `ain kata dengan “Lam” tambahan yang disukun bertemu lalu salah satunya di-idghamkan kepada yang lain, maka kedua “Lam” ini bersatu dengan ditasydid dalam satu kata. [Fathul Majid, hlm.11. Darussalam]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin berkata:

وهو الاسم الذي تتبعه جميع الأسماء حتى إنه في قوله تعالى: } )الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ * اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ (إبراهيم:1-2)
لا نقول إن لفظ الجلالة "الله" صفة بل نقول هي عطف بيان لئلا يكون لفظ الجلالة تابعاً تبعية النعت للمنعوت.

Dia (Allah) adalah nama yang padanya semua nama-nama mengikuti (bersandar) sehingga dalam firman-Nya:

“(Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang dengan izin Rabb mereka (yaitu) menuju jalan Rabb Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.”(Ibrahim: 1-2)

Kita tidak mengatakan bahwa Lafazh Jalâlah “Allah” sebagai shifat tetapi kita katakan ia (Lafazh Jalâlah) merupakan “Athfu Bayan (kata penghubung)” agar Lafazh Jalâlah tidak menjadi taabi` (yang bersandar) -sebagaimana- bersandarnya na`t (sifat) kepada man`ut (yang disifati) [Syarhu Tsalatsatul Ushul hlm.17-18, Daar Ats-Tsurayya]

Para Ulama mengatakan bahwa telah diketahui lafazh-lafazh yang ma'rifat adalah Lafazh Allah, karena tidak ada lagi yang dimaksud melainkan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. [Syarhu Kasyfu Syubuhat hlm.18, Daar Ats-Tsurayya]

Adapun makna Lafazh Allah sebagaimana apa yang diriwayatkan kepada kita dari 'Abdullah bin 'Abbas, ia berkata:

هو الذي يألهه كل شيء و يعبده كل خلق

Dia adalah yang disembah oleh segala sesuatu dan yang diibadahi oleh seluruh makhluk.

Dan Ibnu Jarir menuturkan dengan sanadnya dari Adh-Dhahak dari Abdullah bin 'Abbas radhiyallaahu 'anhu, ia berkata:

اللَّه ذو الألو هية والعبو دية كل خلق

Allah adalah pemilik hak Uluhiyah dan Ubudiyah atas semua makhluk. [Fathul Majid, hlm.11, Darussalam]


Maraji`:
Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, Darussalam
Syarhu Tsalatsatul Ushul, Daar Ats-Tsurayya
Syarhu Kasyfu Syubuhat, Daar Ats-Tsurayya 



Penulis: Yudha bin Abdul Ghani Utsman Bakhsan

Rabu, 23 Mei 2012

Fathul Majid - Pustaka Sahifa




Kode Buku: FM-PS
Penulis : Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh
Penerbit : Pustaka Sahifa
Halaman: 1360 hal. (SHC)
Harga : Rp. 189.000,- lihat disct

DESKRIPSI
Buku Fathul Majid di tangan Anda ini adalah induk rujukan tauhid, yang memuat:
  • Matan lengkap Kitab at-Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah Ala al-Abid, karya Imam al-Mujaddid, Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi, Syaikhul Islam di zamannya, yang dilengkapi dengan harakat.
  • Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid, karya asy-Syaikh al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu asy-Syaikh.
  • Diberikan ta’liq dan hasyiyah (komentar dan tambahan penjelasan) oleh Syaikh Muhammad Hamid al-Faqi, di mana sebagian besar dari ta’liq beliau tersebut, beliau ambil dari Qurrah al-Uyun al-Muwahhidin, karya penulis Fathul Majid sendiri.
  • Ta’liq ini kemudian dimuraja’ah (dikaji ulang) oleh Imam al-Allamah Ibnu Baaz, dan beliau memberikan koreksi dan komentar yang sangat urgen terhadap sejumlah masalah penting.
  • Hadits-hadits dalam Kitab Tauhid ditakhrij oleh penerbit dengan berpegang pada banyak sumber.
  • Editor melengkapi buku ini dengan risalah Takhrij Ahadits Muntaqadah Fi Kitab at-Tauhid, karya Syaikh Furaih bin Shalih al-Bahlal, yang merupakan takhrij pembelaan atas sejumlah hadits-hadits dalam Kitab Tauhid yang dipermasalahkan oleh sebagian kalangan.
  • Buku ini kami lengkapi pula dengan daftar istilah ilmiah, lengkap dengan makna dan definisinya.
  • Biografi Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Besar harapan kami agar buku ini menjadi rujukan primer bagi semua kalangan yang ingin mendalami ‘aqidah dan tauhid.


Manfaatkan Waktu Dengan mendengarkan Al-Qur'an